Powered By Blogger

Sabtu, 12 September 2015

Ketimpangan Pendapatan dan Tingkat Kemiskinan Petani Kopi Arabika di Desa Tanjung Beringin Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi 2011

EKONOMI PEMBANGUNAN
            Ketimpangan  Pendapatan  dan Tingkat Kemiskinan Petani  Kopi Arabika di Desa Tanjung Beringin Kecamatan  Sumbul Kabupaten Dairi 2011
 


                                                            
                                         




Kelas A Reguler
Cinta R Tarigan
NIM:7131141017
JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2015





KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa Penyusun panjatkan, karena berkat rahmat serta bimbingan-Nya penulis berhasil menyelesaikan Mini Riset yang  berjudul " Ketimpangan  Pendapatan  dan Tingkat Kemiskinan Petani  Kopi Arabika di Desa Tanjung Beringin Kecamatan  Sumbul Kabupaten Dairi ".Adapun Mini Riset  ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan .

Penulis mengucapkan rasa berterimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis sehingga dapat menyelesaikan Mini Riset ini tepat waktu. Penulis yakin Mini Riset  ini masih jauh dari nilai kesempurnaan,oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis demi menjadikan Mini Riset ini bisa lebih baik lagi.

Semoga Mini Riset "
Ketimpangan  Pendapatan  dan Tingkat Kemiskinan Petani  Kopi Arabika di Desa Tanjung Beringin Kecamatan  Sumbul Kabupaten Dairi "" memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat serta bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

                                                                                                                Medan, 25 MEI 2015

                                                                                                                        Penyusun,






DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL.................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................... 1
1.1.Latar Belakang................................................................................................................. 1
1.2.Perumusan Masalah......................................................................................................... 4
1.3.Tujuan Penelitian............................................................................................................. 4
1.4.Maksud Penelitian........................................................................................................... 4
BAB II LANDASAN TEORITIS........................................................................................ 5
2.1.Pengertian Distribusi Pendapatan.................................................................................... 5
2.2.Pengukuran Distribusi Pendapatan.................................................................................. 7
2.3.Pengertian Kemiskinan.................................................................................................... 13
2.4.Mengukur Kemiskinan..................................................................................................... 15
2.5.Penyebab Kemiskinan...................................................................................................... 18
BAB III METODE PENELITIAN...................................................................................... 19
3.1.Metode Penentuan Daerah Penelitian.............................................................................. 19
3.2.Metode Penentuan Sampel.............................................................................................. 20
3.3.Metode Analisis Data...................................................................................................... 21
BAB IV PEMBAHASAN.................................................................................................... 24
4.1.Distribusi Sumber Pendapatan Petani Kopi Arabika....................................................... 24
4.2.Analisis Pendapatan dari Usaha Tani Kopi Arabika........................................................ 25
4.3..Kontribusi Pendapatan dari Usaha Tani Kopi Arabika.................................................. 27
Terhadap Total Pendapatan Kopi Arabika
4.4.Tingkat Ketimpangan Pendapatan Petani Kopi............................................................... 29
4.5.Tingkat Kemiskinan dan Jumlah Petani Kopi Arabika Miskin........................................ 33
BAB V PENUTUP............................................................................................................... 36
A.KESIMPULAN................................................................................................................. 36
B.SARAN............................................................................................................................. 37
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 38







DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
1.Gambar 2.1 Kurva Lorenz.................................................................................................. 7
2.Tabel 2.1 Koefisien Gini..................................................................................................... 10
3.Tabel 2.2 Ketimpanbgan Distribusi Menurut Bank Dunia................................................. 11
4.Tabel 3.1 Garis Kemiskinan Menurut................................................................................. 23
BPS untuk Daerah Kota dan Desa
5.Tabel 4.1 Distribusi Pendapatan Petani Sampel Desa Tanjung Beringin 2011................... 24
6.Tabel 4.2 Rata-rata Pendapatan Petani Sampel dari Usahatani Kopi Arabika................... 26
   Tahun 2011 di Desa Tanjung Beringin.
7.Tabel 4.3 Rata-Rata Keseluruhan Pendapatan Petani Sampel dari.................................... 27
   Usahatani Kopi Arabika Selama Tahun 2011 di Desa Tanjung Beringin
8.Tabel 4.4 Kontribusi Masing-Masing Sumber Pendapatan Petani Sampel......................... 28
    Terhadap Total Pendapatan Petani Sampel Selama Tahun 2011
    di Desa Tanjung Beringin
9.Tabel 4.5 Nilai Koefisien Gini (Gini Ratio) Petani Sampel di Desa................................... 29
    Tanjung Beringin, Tahun 2011.
10. Gambar 4.6.Grafik Kurva Lorenz di Desa Tanjung Beringin, Tahun 2011..................... 30
11. Tabel 4.7 Tingkat Ketimpangan Pendapatan Petani Sampel Berdasarkan...................... 32
      Kriteria Bank Dunia di Desa Tanjung Beringin, Tahun 2011
12. Tabel 4.8 Penggolongan Tingkat Kemiskinan Petani Sampel Menurut........................... 33
      Garis Kemiskinan Sajogyo (1988) di Desa Tanjung Beringin, Tahun 2011
13. Tabel 4.9. Penggolongan Tingkat Kemiskinan Petani Sampel......................................... 35
      Menurut Garis Kemiskinan BPS (2010) di Desa Tanjung Beringin, Tahun 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Masalah besar yang dihadapi negara sedang berkembang adalah disparitas  (ketimpangan)  distribusi pendapatan  dan  tingkat  kemiskinan.Tidak meratanya distribusi pendapatan memicu terjadinya ketimpanganpendapatan yang merupakan awal dari munculnya masalah kemiskinan.Membiarkan kedua masalah tersebut  berlarut-larut akan semakin memperparah keadaan,dan tidak jarang dapat menimbulkan konsekuensi negatif terhadap kondisi sosial dan politik.Masalah kesenjangan pendapatan dan kemiskinan  tidak  hanyadihadapi oleh negara sedang berkembang, namun negara maju sekalipun tidak terlepas dari permasalahan  ini.Perbedaannya terletak padaproporsi atau besar kecilnya tingkat kesenjangan dan angka kemiskinanyang terjadi, serta tingkat kesulitan mengatasinya yang dipengaruhi olehluas wilayah dan jumlah penduduk suatu negara.Semakin besar angka kemiskinan, semakin tinggi pula tingkat kesulitan mengatasinya.
Para ekonom pada umumnya membedakan dua ukuran pokok distribusi pendapatan, yang keduanya digunakan untuk tujuan analisis dan kuantitatif tentang ketimpangan distribusi pendapatan. Kedua ukuran tersebut adalah distribusi ukuran,yakni, besar atau kecilnya bagian pendapatan yang diterima masing-masing orang dan distribusi fungsional atau distribusi kepemilikan faktor-faktor produksi.

Distribusi ukuran pendapatan merupakan ukuran yang paling sering digunakan oleh para ekonom.Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap individu atau rumah tangga tanpa memperdulikan sumbernya. Ada tiga alat ukur tingkat ketimpangan pendapatan dengan bantuan distribusi ukuran, yakni, Rasio
Kuznets,Kurva Lorenz, dan Koefisien Gini (Sulastri, 2011).Kemiskinan berbeda dengan ketimpangan distribusi pendapatan.Perbedaan ini sangat ditekankan karena kemiskinan berkaitan erat dengan standar hidup yang absolut dari bagian masyarakat tertentu, sedangkan ketimpanan pendapatan mengacu pada standar hidup relatif dari seluruh masyarakat. Pada tingkat ketimpangan yang maksimum, seluruh kekayaan hanya dimiliki oleh satu orang saja dan tingkat kemiskinan sangat tinggi (Setiadi dan Kolip, 2011).
Kemiskinan lazimnya digambarkan sebagai gejala kekurangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Sekelompok anggota masyarakat dikatakan berada dibawah garis kemiskinan jika pendapatan kelompok anggota masyarakat ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok, seperti, pangan, pakaian, dan tempat tinggal.
Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa,sebagai inspirasi dasar dan perjuangan akan kemerdekaan bangsa dan motivasi fundamental dari cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur (Adiputra, 2011).Dari hasil penelitian Simanjuntak (2005) di Desa Tanjung Beringin,diketahui bahwa ada sekitar 83% petani kopi yang memiliki pekerjaan sampingan diluar usahatani kopi.
Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor,antara lain,luas lahan yang dimiliki,kurangnya modal,penguasaan terhadap bidang pekerjaan lain, hama penyakit yang sedang menjangkit, kesempatan yang ada, dan semakin tinggi kebutuhan rumah tangga. Pekerjaan sampingan ini memberikan pendapatan tambahan yang signifikan terhadap total pendapatan petani, namun pendapatan dari usahatani kopi tetap menjadi sumber pendapatan utama.
Usahatani kopi memberikan kontribusi terbesar terhadap total pendapatan petani, yakni, sebesar 77,28%. Sedangkan usahatani diluar usahatani kopi dan kegiatan produktif lain diluar kegiatan usahatani masing-masing memberikan kontribusi sebesar 6,08% dan 16,64% terhadap total pendapatan petani kopi.Desa Tanjung Beringin adalah salah satu desa memiliki lahan perkebunan kopi Arabika yang cukup luas di Kecamatan Sumbul. Sebagian besar penduduk di Desa Tanjung Beringin ini bekerja sebagai petani kopi Arabika,baik petani buruh maupun petani tauke (petani yang memiliki banyak lahan kopi Arabika dan menyuruh petani buruh untuk mengelola lahannya).
Hal ini diketahui berdasarkan data yang diperoleh dari kantor kepala Desa Tanjung Beringin dimana dari total keluarga yang berjumlah 651 KK, ternyata terdapat 568 KK atau sekitar 87,25% yang bekerja sebagai petani kopi Arabika. Namun bagaimana tingkat ketimpangan pendapatan dan tingkat kemiskinan petani kopi Arabika di Desa Tanjung Beringin belum diketahui sehingga inilah yang menjadi alasan penulis untuk melakukan penelitian di Desa Tanjung Beringin.






1.2.Perumusan Masalah
a. Bagaimana keberagaman sumber pendapatan petani kopi Arabika serta bagaimana  kontribusi pendapatan dari usaha tani kopi Arabika terhadap total pendapatan petani kopi Arabika didaerah penelitian?
b. Bagaimana tingkat ketimpangan distribusi pendapatan petani kopi Arabika didaerah penelitian?
c. Bagaimana tingkat kemiskinan dan jumlah petani kopi Arabika miskin di Desa Tanjung Beringin?
1.3.Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui keragaman sumber pendapatan petani kopi Arabika dan tingkat pendapatan petani dari usahatani kopi Arabika serta kontribusinya terhadap total  pendapatan petani kopi Arabika didaerah penelitian?
b. Untuk menganalisis tingkat ketimpangan distribusi pendapatan petani kopi Arabika didaerah penelitian.
c. Untuk menganalisis tingkat kemiskinan dan proporsi petani kopi Arabika miskin  didaerah penelitian.
1.4.Maksud Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam rangka memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Ekonomi Pembangunan serta melatih penulis untuk mengadakan riset mini. Riset mini diharapkan dapat memberi gambaran mengenai penelitian kualitatif.

BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1. Pengertian Distribusi Pendapatan
Distribusi pendapatan nasional adalah mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil suatu negara di kalangan penduduknya (Dumairy, 1999). Menurut Irma Adelma dan Cynthia Taft Morris (dalam Lincolin Arsyad, 1997) ada 8 hal yang menyebabkan ketimpangan distribusi di Negara Sedang Berkembang:
1.Pertumbuhan penduuduk yang tinggi yang mengakibatkan menurunnya pendapatan perkapita
2.Inflasi dimana pendapatan uang bertambah tetapi tidak diikuti secara proporsional dengan pertambahan produksi barang-barang
3.Ketidakmerataan pembangunan antar daerah
4.Investasi yang sangat banyak dalam proyek-proyek yang padat modal, sehingga persentase pendapatan modal kerja tambahan besar dibandingkan persentase pendapatan yang berasal dari kerja, sehingga pengangguran bertambah
5.Rendahnya mobilitas social
6.Pelaksanaan kebijakan industry substitusi impor yang mengakibatkan kenaikan harga-harga barang hasil industry untuk melindungi usaha-usaha golongan kapitalis
7.Memburuknya nilai tukar bagi NSB dalam perdagangan dengan Negara- Negara maju, sebagi akibat ketidak elastisan permintaan Negara-negara maju terhadap barang-barang ekspor NSB
8.Hancurnya industry kerajinan rakyat seperti pertukangan, industry rumah tangga, dan lain-lain
Michael P. Todaro dalam bukunya Pembangunan Ekonomi menjelaskan bahwa pembangunan dalam perspektif luas dapat dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap masyarakat dan institusi nasional, disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan serta pengentasan kemiskinan.









2.2. Pengukuran Distribusi Pendapatan
Ada beberapa indikator untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan. Berikut beberapa contohnya.1.        Koefisien Gini (Gini Ratio)
Gambar 2.1  Kurva Lorenz   

Koefisien Gini biasanya diperlihatkan oleh kurva yang disebut Kurva Lorenz, seperti yang diperlihatkan kurva di atas ini.Dalam Kurva Lorenz, Garis Diagonal OE merupakan garis kemerataan sempurna karena setiap titik pada garis tersebut menunjukkan persentase penduduk yang sama dengan persentase penerimaan pendapatan. Koefisien Gini adalah perbandingan antara luas bidang A dan ruas segitiga OPE.


Semakin jauh jarak garis Kurva Lorenz dari garis kemerataan sempurna, semakin tinggi tingkat ketidakmerataannya dan sebaliknya.Pada kasus ekstrim, jika pendapatan didistribusikan secara merata,semua titik akan terletak pada garis diagonal dan daerah A akan bernilai nol.
Sebaliknya pada ekstrem lain, bila hanya satu pihak saja yang menerima seluruh pendapatan, luas A akan sama dengan luas segitiga sehingga angka koefisien Gininya adalah satu (1).Jadi suatu distribusi pendapatan makin merata jika nilai koefisien Gini mendekati nol (0). Sebaliknya, suatu distribusi pendapatan dikatakan makin tidak merata jika nilai koefisien Gininya mendekati satu.
Koefisien Gini (Gini Ratio) adalah salah satu ukuran yang paling sering digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh. Rumus Koefisien Gini adalah sebagai berikut:
dimana:
GR       =    Koefisien Gini (Gini Ratio)
Pi        =    frekuensi penduduk dalam kelas pengeluaran ke-i
Fi       =    frekuensi kumulatif dari total pengeluaran dalam kelaspengeluaran ke-i
Fi-1     =    frekuensi kumulatif dari total pengeluaran dalam kelaspengeluaran ke-(i-1)
            Koefisien Gini didasarkan pada kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari suatu variabel tertentu (misalnya pendapatan) dengan distribusi uniform (seragam) yang mewakili persentase kumulatif penduduk. Untuk membentuk koefisien Gini, grafik persentase kumulatif penduduk (dari termiskin hingga terkaya) digambar pada sumbu horizontal dan persentase kumulatif pengeluaran (pendapatan) digambar pada sumbu vertikal.
      Ini menghasilkan kurva Lorenz seperti yang ditunjukkan pada gambar. Garis diagonal mewakili pemerataan sempurna. Koefisien Gini didefinisikan sebagai A/(A+B), dimana A dan B seperti yang ditunjukkan pada grafik. Jika A=0 koefisien Gini bernilai 0 yang berarti pemerataan sempurna, sedangkan jika B=0 koefisien Gini akan bernilai 1 yang berarti ketimpangan sempurna.Namun, pengukuran dengan menggunakan Koefisien Gini tidak sepenuhnya memuaskan.
      Daimon dan Thorbecke (1999) berpendapat bahwa penurunan ketimpangan (perbaikan distribusi pendapatan) selalu tidak konsisten dengan bertambahnya insiden kemiskinan, kecuali jika terdapat dua aspek yang mendasari inkonsistensi tersebut.Pertama, variasi distribusi pendapatan dari kelas terendah meningkat secara drastis sebagai akibat krisis. Kedua, merupakan persoalan metodologi berkaitan dengan keraguan dalam pengukuran kemiskinan dan indikator ketimpangan.Beberapa kriteria bagi sebuah ukuran ketimpangan yang baikmisalnya sebagai berikut.
Ø  Tidak tergantung pada nilai rata-rata (mean independence). Ini berarti bahwa jika semua pendapatan bertambah dua kali lipat,ukuran ketimpangan tidak akan berubah. Koefisien Gini memenuhi syarat ini.
Ø  Tidak tergantung pada jumlah penduduk (population size independence). Jika penduduk berubah, ukuran ketimpangan seharusnya tidak berubah, kondisi lain tetap (ceteris paribus). Koefisien Gini juga memenuhi syarat ini.
Ø  Simetris. Jika antar penduduk bertukar tempat tingkat pendapatannya, seharusnya tidak akan ada perubahan dalam ukuran ketimpangan. Koefisien Gini juga memenuhi hal ini.
Ø  Sensitivitas Transfer Pigou-Dalton. Dalam kriteria ini, transfer pandapatan dari si kaya ke si miskin akan menurunkan ketimpangan. Gini juga memenuhi kriteria ini.

Ukuran ketimpangan yang baik juga diharapkan mempunyai sifat sebagai berikut.
Ø  Dapat didekomposisi
Hal ini berarti bahwa ketimpangan mungkin dapat didekomposisi (dipecah) menurut kelompok penduduk atau sumber pendapatan atau dalam dimensi lain. Indeks Gini tidak dapat didekomposisi atau tidak bersifat aditif antar kelompok, yakni nilai total koefisien Gini dari suatu masyarakat tidak sama dengan jumlah nilai indeks Gini dari sub-kelompok masyarakat (sub-group).
Ø  Dapat diuji secara statistic
Seseorang harus dapat menguji signifikansi perubahan indeks antar waktu. Hal ini sebelumnya menjadi masalah, tetapi dengan teknik bootstrap interval (selang) kepercayaan umumnya dapat dibentuk.
Tabel berikut ini memperlihatkan patokan yang mengatagorikan ketimpangan distribusi berdasarkan nilai koefisien Gini.
Tabel 2.1. Koefisien Gini
Nilai Gini Ratio
Tingkat Ketimpangan
< 0,35
Rendah
0,35 – 0,5
Sedang
> 0,5
Tinggi




2. Ukuran Bank Dunia
        Bank Dunia mengukur ketimpangan distribusi pendapatan suatu negara dengan melihat besarnya kontribusi 40% penduduk termiskin. Kriterianya dapat dilihat pada tabel berikut.
Distribusi Pendapatan
Tingkat Ketimpangan
Kelompok 40% termiskin pengeluarannya
< 12% dari keseluruhan pengeluaran
Tinggi
Kelompok 40% termiskin pengeluarannya
12%–17% dari keseluruhan pengeluaran
Sedang
Kelompok 40% termiskin pengeluarannya
> 17%  dari keseluruhan pengeluaran
Rendah
 
       Tabel 2.2.Ketimpangan Distribusi menurut Bank Dunia

       Distribusi pendapatan merupakan salah satu aspek kemiskinan yang perlu dilihat karena pada dasarnya merupakan ukuran kemiskinan relatif.Oleh karena data pendapatan sulit diperoleh, pengukuran distribusi pendapatan selama ini didekati dengan menggunakan data pengeluaran.
        Dalam hal ini, analisis distribusi pendapatan dilakukan dengan menggunakan data total pengeluaran rumah tangga sebagai proksi pendapatan yang bersumber dari Susenas. Dalam analisis, dapat menggunakan dua ukuran untuk merefleksikan ketimpangan pendapatan yaitu Koefisien Gini (Gini Ratio) dan Ukuran Bank Dunia.
      
         Bank Dunia mengelompokkan penduduk ke dalam tiga kelompok sesuai dengan besarnya pendapatan: 40 persen penduduk dengan pendapatan rendah, 40 persen penduduk dengan pendapatan menengah, dan 20 persen penduduk dengan pendapatan tinggi. Ketimpangan pendapatan diukur dengan menghitung persentase jumlah pendapatan penduduk dari kelompok yang berpendapatan 40 persen terendah dibandingkan total pendapatan seluruh penduduk.
Kategori ketimpangan ditentukan dengan menggunakan kriteria seperti berikut.
·       Jika proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk kurang dari 12 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan tinggi.
·       Jika proporsi jumlah pendapatan penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk antara 12-17 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan sedang/menengah;
·       Jika proporsi jumlah pendapatan penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk lebih dari 17 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan rendah.







2.3.Pengertian Kemiskinan
       Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Banyak juga pengertian kemiskinan menurut para ahli seperti:
1.      BAPPENAS (1993)
Kemiskinan adalah situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena kehendak oleh si miskin, melainkan karena keadaan yang tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya.
2.      Levitan (1980)
Kemiskinan adalah kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar hidup yang layak.
3.      Faturchman dan Marcelinus Molo (1994)
Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dan atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
4.      Ellis (1994)
Kemiskinan merupakan gejala multidimensional yang dapat ditelaah dari dimensi ekonomi, sosial politik.
5.      Suparlan (1993)
Kemiskinan adalah suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
6.      Reitsma dan Kleinpenning (1994)
Kemiskinan adalah ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, baik yang bersifat material maupun non material.

7.      Friedman (1979)
Kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk memformulasikan basis kekuasaan sosial, yang meliptui : asset (tanah, perumahan, peralatan, kesehatan), sumber keuangan (pendapatan dan kredit yang memadai), organisiasi sosial politik yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan bersama, jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang atau jasa, pengetahuan dan keterampilan yang memadai, dan informasi yang berguna.
         Masalah kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan global. Di indonesia masalah kemiskinan seperti tak kunjung usai. Masih banyak kita dapati para pengemis dan gelandangan berkeliaran tidak hanya di pedesaan bahkan di kota-kota besar seperti jakarta pun pemandangan seperti ini menjadi tontonan setiap hari.
         Kemiskinan bisa dikelompokan dalam tiga kategori,yaitu kemiskinan absolut,kemiskinan relatif dan kemiskinan cultural. Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standar yang konsisten, tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat (negara). Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yang cukup menopang kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa). 
         Bank Dunia  mendefinisikan kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan dibawah US$1 per hari.Deklarasi Copenhagen menjelaskan kemiskinan absolut sebagai sebuah kondisi yang dicirikan dengan kekurangan parah kebutuhan dasar manusia, termasuk makanan, air minum yang aman, fasilitas sanitasi, kesehatan, rumah, pendidikan, dan informasi.
         Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan, namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.Menurut Bank Dunia, kemiskinan relative adalah hidup dengan pendapatan dibawah US$2 per hari. Kemiskinan kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
        Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di dunia bekembang, ada bukti tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tunawisma yang berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran kota dan ghetto yang miskin.


2.4. Mengukur Kemiskinan
1.        Garis Kemiskinan (GK), sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan:
GK = GKM + GKNM
Γ¨ GK= Garis Kemiskinan
GKM= Garis Kemiskinan Makanan
GKNM= Garis Kemiskinan Non Makan
Teknik penghitungan GKM:
Dimana:
GKMj = Garis Kemiskinan Makanan daerah  j.
Pjk = Harga komoditi k di daerah j.
Qjk = Rata-rata kuantitas komoditi k yang dikonsumsi di daerah j.
Vjk = Nilai pengeluaran untuk konsumsi komoditi k di daerah j.
j = Daerah (perkotaan atau pedesaan)
2.    Persentase Penduduk Miskin, sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan               

Dimana:
Ξ± = 0
z = garis kemiskinan
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi < z
q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan
n = jumlah penduduk
3.Indeks Kedalaman Kemiskinan, sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan:
Dimana:
Ξ± = 1
4.Indeks Keparahan Kemiskinan, sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor. Rumus Penghitungan: 
Dimana: Ξ± = 2
2.5.Penyebab Kemiskinan
      Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
Ø  penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Contoh dari perilaku dan pilihan adalah penggunaan keuangan tidak mengukur pemasukan.
Ø  penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga. Penyebab keluarga juga dapat berupa jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan pemasukan keuangan keluarga.
Ø  penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar. Individu atau keluarga yang mudah tergoda dengan keadaan tetangga adalah contohnya.
Ø  penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi. Contoh dari aksi orang lain lainnya adalah gaji atau honor yang dikendalikan oleh orang atau pihak lain. Contoh lainnya adalah perbudakan.
Ø  penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
         Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Metode Penentuan Daerah Penelitian
       Pada penelitian ini metode yang digunakan untuk menentukan daerah penelitian adalah metode Two Stage Cluster Sampling dengan berdasarkan dua tahapan. Pertama,mengumpulkan semua data mengenai produksi kopi Arabika dari seluruh kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara tahun 2010, daerah penghasil kopi Arabika terbesar ialah
      Kabupaten Dairi dengan produksi kopi Arabika sebesar 10.031 ton selama tahun 2009. Kedua, mengumpulkan semua data mengenai produksi kopi Arabika diseluruh kecamatan di Kabupaten Dairi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Perkebunan Kabupaten Dairi tahun 2010, daerah penghasil kopi Arabika terbesar ialah Kecamatan  Sumbul dengan produksi kopi Arabika sebesar 6.810 ton selama tahun 2009.
       Kecamatan Sumbul terbagi kedalam 19 desa dimana Desa Tanjung Beringin memiliki lahan perkebunan kopi Arabika yang cukup luas dan sekitar 87,25% penduduknya yang bekerja sebagai petani kopi Arabika. Hal inilah yang menjadi alasan penulis untuk memilih Desa Tanjung Beringin sebagai daerah penelitian.







3.2.Metode Penentuan Sampel
        Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel ialah metode Simple Random Sampling dimana semua unsur dari populasi petani kopi Arabika mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel. Proses pemilihan sampel (n) dari populasi (N) dilakukan secara random (acak). Jumlah sampel yang diambil pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin, yakni,
dimana,
n = Ukuran sampel
N = Ukuran populasi
d = Presisi yang ditetapkan (15%)
Melalui rumus Slovin diatas maka jumlah sampel (n) yang diambil berdasarkan
jumlah populasi petani kopi Arabika (N) di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Sumbul
yang berjumlah 568 petani kopi Arabika ditentukan sebagai berikut,








3.3. Metode Analisis Data
         Untuk menguji hipotesis a,pertama digunakan analisis deskriptif dengan cara menjelaskan fakta di lapangan berdasarkan wawancara langsung dengan petani kopi Arabika. Kedua, digunakan analisis penerimaan dan pendapatan petani sesuai dengan rumus yang ditetapkan oleh Soekartawi (2002) sebagai berikut,
{ TR = Y . Py } dan { Ο€ = TR – TC }
dimana,
TR = Total penerimaan yang diterima petani kopi Arabika (Rp.)
Y = Produksi kopi Arabika (Kg)
Py = Harga jual kopi Arabika per-kg (Rp.)
Ο€ = Pendapatan petani kopi Arabika (Rp.)
TR = Total penerimaan petani kopi Arabika (Rp.)
TC = Total biaya produksi (Rp.)
      Sedangkan untuk menghitung kontribusi pendapatan dari usahatani kopi Arabika
terhadap total pendapatan keluarga petani kopi Arabika dapat digunakan rumus berikut,
dengan,
KP = Kontribusi Pendapatan Dari Usahatani Kopi Arabika (%)
Ο€ = Pendapatan Dari Usahatani Kopi Arabika (Rp.)
Ο€tot = Total Pendapatan Keluarga Petani Kopi Arabika (Rp.)
       Untuk menguji hipotesis b, digunakan dua alat perhitungan tingkat ketimpangan
distribusi pendapatan, yakni, indikator ketimpangan Gini Ratio dan kriteria Bank Dunia.
Untuk menghitung besarnya nilai koefisien Gini (Gini Ratio) digunakan rumus berikut,


Dengan,                                     GR =
GR = Angka Gini Ratio
fx = Proporsi jumlah RT
Yi = Proporsi jumlah pendapatan RT kumulatif
i = Index yang menunjukkan no. sampel

Kategori tingkat ketimpangan berdasarkan nilai dari koefisien Gini (Gini Ratio)
dibagi kedalam tiga kriteria sebagaimana tertera pada tabel berikut ini, dengan,
GR = Angka Gini Ratio
fx = Proporsi jumlah RT
Yi = Proporsi jumlah pendapatan RT kumulatif
            i = Index yang menunjukkan no. sampel
   
 Kategori tingkat ketimpangan berdasarkan nilai dari koefisien Gini (Gini Ratio)  dibagi kedalam tiga kriteria sebagaimana tertera pada tabel berikut ini,Untuk menguji hipotesis c, digunakan dua kriteria garis kemiskinan yakni, kriteria garis kemsikinan menurut Sajogyo (1988) dan BPS (2010). Adapun kriteria mengenai kedua indikator diatas dapat dilihat pada penjelasan berikut ini,








 Indikator garis kemiskinan menurut Sajogyo (1988)
a. Paling miskin, bila konsumsi beras sebanyak < 180 kg/kapita/tahun
b. Miskin sekali, bila konsumsi beras sebanyak 180–240 kg/kapita/tahun
c. Miskin, bila konsumsi beras sebanyak 241–320 kg/kapita/tahun
d. Nyaris miskin, bila konsumsi beras sebanyak 321–480 kg/kapita/tahun
e. Diatas garis kemiskinan (tidak miskin), bila konsumsi beras sebanyak
> 480 kg/kapita/tahun.

Tabel 3.1Garis  Kemiskinan
Menurut  BPS
Untuk
Daerah
Perkotaan
dan
Perdesaan (Kurun Waktu : Maret 2009 – Maret 2010).
Daerah / Tahun
Garis Kemiskinan
(Rp. / Kapita / Bulan)  
Makan
Bukan
Makanan
Total      
Perkotaan          
Maret 2009
155.909
66.214
222.123
Maret 2010
163.077
69.912
232.989
Perdesaan
Maret 2009
139.331
40.503
179.835
Maret  2010
148.939
43.415
192.354          
Sumber : Badan Pusat Statistik Tahun 2010.



 Indikator garis kemiskinan menurut BPS (2010)


BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Distribusi Sumber Pendapatan Petani Kopi Arabika
Dari hasil wawancara langsung dengan petani sampel diperoleh informasi bahwa mereka  menekuni  berbagai  cabang usaha lain  yang  beragam  diluar usahatani  kopi Arabika  sebagai  sumber  pendapatan  utama,  baik usahatani  nonkopi  Arabika,  maupun kegiatan  produktif  lain diluar  usahatani.Hal  ini disebabkan  oleh  berbagai  faktor pendukung seperti,  luas  lahan  yang dimiliki,  modal,  penguasaaan  terhadap  bidang pekerjaan tertentu, maupun kesempatan  yang ada. Distribusi sumber pendapatan  yang ditekuni petani sampel dapat diamati pada tabel berikut ini.
Tabel 4. 1.Distribusi Sumber Pendapatan Petani Sampel di Desa Tanjung Beringin,
Tahun 2011.
NO
Jenis Mata Pencaharian
Jumlah (jiwa)
Persentase(%)
1
Hanya Mengusahakan Usahatani
3
7,14
Kopi Arabika (Tanpa Sampingan)
2
Usahatani Non-Kopi Arabika
39
92,8
a. Usahatani Cabai Hijau
22
38,92
b. Usahatani Cabai Rawit
16
38,09
c. Usahatani Jagung
6
14,28
d.Usahatani Sawi Putih
12
28,57
e. Usahatani Tembakau
6
14,28
f. Usahatani Tomat
10
23,81
g. Usahatani Ubi Jalar
4
9,52
h. Usahatani Ubi Kayu
8
19,05
3
Kegiatan Produktif Diluar Usahatani
14
42,8
a. Buruh Tani
4
9,52
b. Beternak
7
16,67
c. Berdagang
4
9,52
d. Usaha Jasa
4
9,52
SUMBER:Analisis data primer

4.2.Analisis Pendapatan Dari Usahatani Kopi Arabika
Pendapatan usahatani merupakan selisih dari total penerimaan yang diperoleh petani dengan jumlah biaya produksi selama proses produksi berlangsung. Seperti diketahui bahwa sebagian dari penerimaan yang diperoleh petani dari usahataninya merupakan pengembalian atas biaya yang dikeluarkan petani dalam penggunaan faktor-faktor produksi dan sisanya disebut pendapatan yang diperoleh petani dari usaha tani Harapan petani ialah penerimaan tersebut paling tidak sama dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan sehingga usahataninya tidak merugi. Pada berikut ini diperlihatkan rata-rata pendapatan petani sampel dari usahatani kopi Arabika didaerah penelitian.


Tabel 4.2.Rata-rata Pendapatan Petani Sampel dari Usahatani Kopi Arabika Selama Tahun 2011 di Desa Tanjung Beringin.
No
Bentuk Produksi
Kategori Pendapatan
Rata-Rata Pendapatan
1
Biji Merah
Per-Petani
Rp.10.623.851,92
Per-Hektar
Rp.17.246.957,52
2
Biji Putih
Per-Petani
Rp.23.537.518,28
Per-Hektar
Rp36.568.104,83
Sumber:Analisis Data Primer
Dari tabel4.2 dapat disimpulkan bahwa untuk kategori pendapatan per-petani, rata-rata pendapatan petani sampel yang memproduksi biji merah selama tahun 2011 ialahRp.10.623.851/tahun.Sedangkan rata-rata pendapatan petani sampel yang memproduksibiji  putih ialah  Rp.23.537.518/tahun. 
Untuk  kategori  pendapatan  per-hektar,  rata-ratapendapatan petani sampel  yang  memproduksi  biji  merah  ialah  Rp.17.246.957/tahun.Sedangkan  rata-rata  pendapatan  petani  sampel  yang memproduksi biji  putih  selama ialah Rp.36.568.104/tahun. Sebagai perbandingan dapat kita amati rata-rata keseluruhanpendapatan petani sampel tanpa melihat bentuk produksi biji kopi pada tabel berikut ini,




Tabel 4.3.Rata-Rata Keseluruhan Pendapatan Petani Sampel dari Usahatani Kopi
Arabika Selama Tahun 2011 di Desa Tanjung Beringin.
No
Kategori Pendapatan
Rata-Rata Pendapatan Pertahun(Rp)
Rata-Rata Pendapatan Perbulan(RP)
1
Per-Petani
Rp.19.540.431,07
Rp.1.628.369,26

Rp.1.628.369,26
2
Per-Hektar
Rp.30.587.749,71
Rp.2.548.979,14
TOTAL PENDAPATAN 42 PETANI SAMPEL
Rp.820.698.105,00
Sumber:Analisis Data Primer
Dari tabel 4.3 dapat disimpulkan bahwa untuk kategori pendapatan per-petani, selama tahun 2011 rata-rata keseluruhan pendapatan petani dari usahatani kopi Arabika ialah Rp.19.540.431. Sedangkan, untuk kategori pendapatan per-hektar, rata-rata keseluruhan pendapatan petani dari usahatani kopi Arabika ialah Rp.30.587.749.
4.3. Kontribusi Pendapatan Dari Usahatani Kopi Arabika Terhadap Total Pendapatan Petani Kopi Arabika
Dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa selain mengusahakan usahatani kopi Arabika, petani sampel juga mengusakan usahatani nonkopi Arabika, seperti, usahatani cabai hijau, cabai rawit, jagung, sawi putih, tembakau, tomat, ubi jalar, ubi kayu. Disamping itu, petani sampel juga menekuni usaha lain diluar kegiatan usahatani, seperti, buruh tani, beternak, berdagang, dan memiliki usaha jasa. Hal ini disebabkan oleh tuntutan hidup petani sampel dalam meningkatkan taraf hidup keluarga sementara kebutuhan keluarga semakin kompleks.
Tabel 4.4.Kontribusi Masing-Masing Sumber Pendapatan Petani Sampel Terhadap Total Pendapatan Petani Sampel Selama Tahun 2011 di Desa Tanjung Beringin.
No
Jenis Mata Pencaharian
Rata-Rata Pendapatan(RP)
Persentase (%)
1
Usahatani Kopi Arabika
Rp.19.540.431,07
65,68
2
Usahatani Non-Kopi Arabika
Rp.7.704.383,33
25,9
a.Usaha Tani Cabai Hijau
Rp.3.389.083,33
11,4
b.Usaha Tani Cabai Rawit
Rp.1.368.595,24
4,6
c.Usaha Tani Jagung
Rp.195.238,10
0,65
d.Usaha Tani Sawi Putih
Rp.533.380,95
1,8
e.Usaha Tani Tembakau
Rp.1.426.190,48
4,8
f.Usaha Tani Tomat
Rp.346.452,38
1,16
g.Usaha Tani Ubi Jalar
Rp.102.619,05
0,34
h.Usaha Tani Ubi Kayu
Rp.342.823,81
1,15
3
Kegiatan Produktif Diluar Usahatani
Rp.2.503.766,67
8,42
a.buruh
Rp.73.928,57
0,25
b.beternak
Rp.1.818.226,19
6,11
c.Berdagang
Rp.400.016,67
1,35
d.Usaha Jasa
Rp.211.595,24
0,71
Rata-Rata Total Pendapatan
Rp.29.748.581,07
100
Sumber:Analisis Data Primer
4.4. Tingkat Ketimpangan Pendapatan Petani Kopi Arabika
A.Berdasarkan Nilai Koefisien Gini (Gini Ratio) dan Kurva Lorenz
Nilai koefisien Gini yang menggambarkan tingkat ketimpangan pendapatan dari 42 petani sampel di Desa Tanjung Beringin dapat dilihat pada tabel berikut ini,
Tabel 4.5 Nilai Koefisien Gini (Gini Ratio) Petani Sampel di Desa Tanjung Beringin, Tahun 2011.
Uraian
Total Pendptn
Kum,Pndaptan
kum(Yi+yi-1)
petani  (%Xi)
[%Xi]×Kum.
petani/tahun(yi)
(Kum %yi)
[% (Yi+Yi-1)]
Terendah
Rp.6.213.740
1%
0,50%
2,38%
0,01%
Tertinggi
Rp.89.232.975
100,00%
192,86%
2%
4,49%
Jumlah
Rp.1.249.440.405
1405,16%
2710,32%
100%
64,53%
Koefisien Gini
1 – 64,53% = 35,47% = 0,36
 (Gini Ratio)
Sumber:Analisis Data Primer
Dari tabel 4.5  diketahui bahwa nilai koefisien Gini untuk distribusi pendapatan petani sampel di Desa Tanjung Beringin pada tahun 2011 ialah sebesar 0,36. Jika mengacu pada tabel 2.1, halaman 10, maka diketahui bahwa tingkat ketimpangan pendapatan petani sampel berada dalam kategori menengah. Selanjutnya koefisien Ginidapat pula dijelaskan melalui grafik kurva Lorenz yang terbagi atas 2 sumbu dimana sumbu horisontal menggambarkan % kumulatif petani sampel, sedangkan sumbu vertikal menyatakan % kumulatif dari total .
Disamping itu, grafik kurva Lorenz juga memiliki garis linear yang disebut dengan garis pemerataan. Untuk lebih jelasnya lagi mengenai grafik kurva Lorenz didaerah penelitian dapat dilihat pada grafik kurva Lorenz Di atas.diketahui bahwa sekitar 20% dari jumlah petani sampel yang memiliki pendapatan terendah hanya menerima 6,95% bagian dari keseluruhan total pendapatan. Selanjutnya 40% petani sampel yang juga memiliki pendapatan terendah menerima 19,26% bagian dari keseluruhan total pendapatan.

                                 
Garis Pemerataan
2
.
9
6
%
6
.
9
5
%
1
3
.
4
5
%
1
9
.
2
6
%
2
5
.
5
6
%
3
3
.
2
2
%
Kurva Lorenz
4
2
.
0
0
%
5
7
.
4
8
%
7
5
.
3
2
%
0
.
0
0
%
1
0
.
0
0
%
2
0
.
0
0
%
3
0
.
0
0
%
4
0
.
0
0
%
5
0
.
0
0
%
6
0
.
0
0
%
7
0
.
0
0
%
8
0
.
0
0
%
9
0
.
0
0
%
1
0
0
.
0
0
%
0
.
0
0
%
1
0
.
0
0
% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%
%
Ku
m
u
l
a
t
i
f
Pe
n
d
a
p
a
t
a
n
Sumber : Analisis Data Primer.

B. Berdasarkan Kriteria Bank Dunia (World Bank)
     Pada penelitian ini selain menggunakan media perhitungan dengan koefisien Gini,peneliti juga menggunakan kriteria tingkat ketimpangan yang ditetapkan Bank Dunia.Tingkat ketimpangan dengan kriteria Bank Dunia diukur dengan menghitung prosentase kumulatif pendapatan dari 40% petani sampel yang berpendapatan terendah,kemudian membandingkannya dengan prosentase kumulatif keseluruhan total pendapatan petani sampel. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini,

NO
Kelompok Petani
Jumlah Kumulatif
Jumlah Kumulatif
Persentase
Sampel
Petani(jiwa)
Pendapata(RP)
kmlatif Pndpatan
1
40% Berpendapatan
Terendah
17
Rp.240.645.390,00
19,26
2
40% Berpendapatan
Menengah
17
Rp.477.535.140,00
38,22
3
20% Berpendapatan
Tertinggi
8
Rp.531.259.875,00
42,52
Jumlah
42
Rp.1.249.440.405,00
100
12% Dari Jumlah Pendapatan Rp. 149.932.848,60
17% Dari Jumlah Pendapatan Rp. 212.404.868,85
Sumber : Analisis Data Primer.
Tabel 4.7Tingkat Ketimpangan Pendapatan Petani Sampel Berdasarkan Kriteria Bank Dunia di Desa Tanjung Beringin, Tahun 2011.
Untuk melihat tingkat ketimpangan distribusi pendapatan petani sampel di Desa Tanjung Beringin maka yang harus diperhatikan ialah jumlah kumulatif pendapatan yang diterima oleh kelompok 40% petani berpendapatan terendah. Dimana pada penelitian ini kelompok tersebut menguasai keseluruhan total pendapatan sebesar Rp.240.645.390 atau sekitar 19,26%. Jika mengacu pada tabel 2, halaman 6, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat ketimpangan distribusi pendapatan petani sampel menurut Bank Dunia termasuk dalam kategori rendah karena kelompok 40% petani yang berpendapatan terendah menguasai lebih dari 17% jumlah keseluruhan pendapatan petani sampel di Desa Tanjung Beringin.






4.5. Tingkat Kemiskinan dan Jumlah Petani Kopi Arabika Miskin
A. Berdasarkan Garis Kemiskinan Sajogyo (1988)  
    Menurut garis kemiskinan Sajogyo (1988) agar keluarga petani sampel didaerah penelitian disebut “Tidak Miskin” maka petani sampel harus memiliki rata-rata pendapatan minimal sebesar Rp.13.040.625/thn. Nilai tersebut diperoleh dengan mengalikan tiga faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan petani sampel menurut Sajogyo (1988), yakni, batas minimal konsumsi beras untuk kategori daiatas miskin (321 kg), harga beras per-kg yang berlaku pada saat penelitian (Rp.8.125), dan rata-rata jumlah anggota keluarga yang ditanggung petani sampel (5 orang).
    Selanjutnya untuk lebih memahami lagi mengenai penggolongan tingkat kemiskinan dan jumlah petani sampel miskin berdasarkan kriteria garis kemiskinan Sajogyo (1988) dapat diamati pada tabel berikut ini,
Tabel 4.8 Penggolongan Tingkat Kemiskinan Petani Sampel Menurut Garis Kemiskinan Sajogyo (1988) di Desa Tanjung Beringin, Tahun 2011.
NO
Kategori
batas konsumsi beras
Jumlah Keluarga
Presentase
tnkt kemisknan
(kg/kapit/Tahun)
Petani Sampel
(kk)
1
   Paling Miskin
          < 180
1
2,38
2
Miskin Sekali
180 – 240
1
2,38
3
Miskin Sekali
241 – 320
7
16,67
4
Nyaris Miskin
321 – 480
11
26,19
5
Tidak Miskin
> 480
12
52,38
Jumlah
42
100
            Sumber : Analisis Data Primer.
     Dari tabel 4.8 diatas diketahui bahwa jumlah petani sampel yang berada dibawah garis kemiskinan ialah sebanyak 9 KK atau sekitar 21,43%. Jumlah ini diperoleh dari kategori paling miskin, kategori miskin sekali, dan kategori miskin.
B.Berdasarkan Kriteria BPS (2010)
     Sejak tahun 2003, BPS setiap tahunnya selalu mengeluarkan batasan pendapatan per-kapita per-bulan serta dibedakan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Hal ini dikarenakan sejak tahun 2003, BPS selalu mengumpulkan data Susenas Panel Modul Konsumsi setiap bulan februari atau maret.
     Dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan garis kemiskinan BPS tahun 2010 untuk wilayah perdesaan yang mengukur batasan minimum pendapatan sebesar Rp.192.354/kapita/bulan (sesuai dengan tabel 3.1). Dengan kata lain, keluarga petani yang tergolong miskin ialah petani yang memiliki pendapatan per-kapita per-bulan dibawah Rp.192.354 dan begitu pula sebaliknya. Pada tabel berikut ini akan dijelaskan mengenai tingkat kemiskinan dan jumlah petani sampel miskin didaerah penelitian.
Tabel 4.9. Penggolongan Tingkat Kemiskinan Petani Sampel Menurut Garis Kemiskinan BPS (2010) di Desa Tanjung Beringin, Tahun 2011.
No
Kategori
Batasan Pendapatan
Jumlah Keluarga
Persentase
tingkat kemiskinan
RP/Kapita/Bulan
Sampel(KK)
(%)
1
Miskin
< Rp.192.354,00
7
16,67%
2
Tidak Miskin
≥ Rp.192.354,00
35
83,33%
Jumlah
42
100%
            Sumber : Analisis Data Primer.
     Melalui tabel 4.9 di atas dapat diketahui bahwa dari 42 petani sampel yang diteliti pada penelitian ini, jumlah petani sampel yang dikategorikan miskin adalah sebanyak 7 KK atau sekitar 16,67%. Sedangkan jumlah petani sampel selebihnya, yakni, sebanyak 35 KK atau sekitar 83,33% dikategorikan tidak miskin.







BAB V
PENUTUP
A.KESIMPULAN
1.      Selain menjadikan usaha tani kopi Arabika sebagai sumber mata pencaharian utama, petani sampel juga menekuni berbagai cabang usaha lain sebagai sumber mata pencaharian tambahan, seperti, usahatani nonkopi Arabika dan kegiatan produktif lain diluar usahatani. Pendapatan petani sampel dari usahatani kopi Arabika mampu memberikan kontribusi terbesar terhadap total pendapatan petani selama tahun 2011, yakni, sebesar 65,68%.
2.      Tingkat ketimpangan distribusi pendapatan petani sampel menurut indikator koefisien Gini (Gini Ratio) berada dalam kategori menengah dengan nilai Gini Ratio sebesar 0,36. Sedangkan menurut indikator Bank Dunia (World Bank), tingkat ketimpangan distribusi pendapatan petani sampel berada dalam kategori rendah karena kelompok 40% petani yang berpendapatan terendah menguasai lebih dari 17% jumlah keseluruhan pendapatan petani, yakni, sebesar 19,26%.
3.      Menurut kriteria garis kemiskinan Sajogyo (1988), jumlah petani kopi Arabika miskin di Desa Tanjung Beringin selama tahun 2011 ialah sebanyak 9 keluarga atau sekitar 21,43%. Sementara itu menurut kriteria garis kemiskinan BPS (2010), jumlah petani kopi Arabika miskin di Desa Tanjung Beringin selama tahun 2011 ialah sebanyak 7 keluarga atau sekitar 16,67%, sedangkan selebihnya sebanyak 35 keluarga atau sekitar 83,33% berada dalam kategori tidak miskin.
3.

B.SARAN
     Diharapkan kepada petani kopi Arabika di Desa Tanjung Beringin agar lebih memperhatikan pemeliharaan tanaman kopi Arabika, seperti pemangkasan dan pembersihan lahan perkebunan. Sistem pemangkasan yang baik ialah dengan cara memangkas pucuk tanaman kopi Arabika agar tanaman tidak tumbuh terlalu tinggi sehingga bisa memberikan kesempatan bagi cabang-cabang primer dan sekunder untuk memanjang kesamping.
     Ini bertujuan agar proses pemanenan tidak sulit dijangkau serta pertumbuhan buah kopi dapat berjalan optimal. Selain itu, sistem pemangkasan juga perlu dilakukan terhadap tanaman yang memiliki pertumbuhan terlalu cepat karena pertumbuhan yang terlalu cepat dapat mengganggu tanaman lainnya akibat terlalu rimbun atau lebat.









DAFTAR PUSTAKA
o   Todaro,M.P.dan Stephen C.S.2006.Pembangunan Ekonomi,Surabaya:Penerbit Erlangga,Jilid 1.
o   Simanjuntak, Irwan. 2005.Analisis Pendapatan Keluarga Petani Kopi Ditinjau Dari Garis Kemiskinan. Skripsi Program Studi Agribisnis, Depatemen Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan.
o   BPS Kabupaten Dairi (2011)

Senin, 18 Mei 2015

penawaran uang dan kegiatan ekonomi negara

Dalam kesempatan kali ini kami akan membahas mengenai dua hal:
Ø  Teori-teori keuangan yang utama, yaitu: teori kuantitas, teori sisa tunai yang di kemukakan ahli ekonomi Klasik dan teori ekonomi Keynes.
Ø  Kebijakan moneter, yaitu langkah-langkah pemerintah (melalui bank sentral) untuk mengendalikan kegiatan ekonomi negara dan harga-harga dengan cara mengendalikan perubahan-perubahan dalam penawaran uang dan tingkat bunga.
            Analisis –analisis yang menjelaskan tentang perhubungan diantara penawaran uang dengan tingkat harga dan kegiatan ekonomi negara dinamakan Teori Keuangan.

A.PENAWARAN UANG DAN HARGA (PANDANGAN KLASIK)
            Teori keuangan ini boleh dibedakan dalam dua bentuk, yaitu: teori kuantitas (quantity theory of money) dan teori sisa tunai (cash balance theory).
            Perubahan dalam penawaran uang akan menimbulkan perubahan yang sama presentasinya dengan tingkat yang sama dengan tingkat harga. Kenaikan penawaran uang akan menaikan harga pada tingkat yang sama dan penurunan penawaran uang akan menurunkan harga juga pada tingkat yang sama. Merupakan pandangan pokok teori yang sama antara ahli ekonomi Klasik dengan ahli ekonomi Keynes.
·      

  PERSAMAAN PERTUKARAN
   MV = PT
 Dapat dinyatakan sebagai berikut:
 Keterangan: - M adalah penawaran uang
                     - V adalah laju peredaran uang 
                    - P adalah tingkat harga
                   - T adalah jumlah barang-barang dan jasa yang diperjual belikan dalam     perekonomian.
MVy = Y
 Teori kuantitas uang adakalanya dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:
 Keterangan: - M adalah penawaran uang
        - Vy adalah laju peredaran uang yang di belanjakan untuk membeli barang-        barang jadi saja
        - Y adalah pendapatan nasional.

TEORI KUANTITAS UANG
Teori kuantitas uang dapat diringkas sebagai berikut : perubahan dalam penawaran uang akan menimbulkan perubahan yang sama tingkatnya ke atas harga-harga, dan perubahan kedua variabel tersebut adalah kearah yang sama.
Pandangan teori kuantitas menurut Irving Fisher golongan ahli-ahli ekonomi Klasik,  didasarkan kepada dua asumsi berikut :
1. Laju peredaran uang atau V adalah tetap
Menurut ahli-ahli ekonomi klasik kelajuan peredaran uang tergantung kepada beberapa faktor teknikal seperti : sistem pembayaran gaji ,ciri-ciri kegiatan perdagangan ,efisiensi sistem pengankutan dan kepadatan penduduk. Faktor-faktor ini tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu pendek dan cara masyarakat menggunakan uang dan berbelanja tidak berubah.
2.Kesempatan kerja penuh selalu tercapai dalam ekonomi
Oleh karena itu jumlah barang-barang adalah tetap dan tidak dapat di tambah. Adapun Rumusan Say yang berbunyi, setiap barang yang di keluarkan akan di beli masyarakat (supply creates its own demand) .

TEORI SISA TUNAI
Beberapa tahun sebelum Irving Fisher mengembangkan teori kuantitas, seorang ahli ekonomi Inggris yaitu Alferd Marshall dari Cambridge mengembangkan teori sisa tunai  yang juga menerangkan sifat hubungan di antara penawaran uang dan tingkat harga.
Teori ini juga berpendapat bahwa perubahan dalam penawaran uang akan menimbulkan perubahan harga-harga yang sama tingkatnya. Berikut adalah persamaannya:
 M = kPT


Keterangan : dimana M, P, T mempunyai arti yang sama dalam MV = PT.
Dalam teori ini k adalah bagian dari pendapatan masyarakat yang tetap dipegang mereka dalam bentuk tunai.

KRITIK-KRITIK KE ATAS TEORI KUANTITAS UANG
Ahli-ahli ekonomi modern yang menyongkong teori kuantitas uang di kenal sebagai golongan Monetaris. Golongan Monetaris berpendapat bahwa kebijakan moneter adalah alat yang paling efektif untuk mengendalikan kegiatan ekonomi.
Kritik-kritik utama yang dikemukakan oleh beberapa ahli yang berbeda pendapat keatas teori kuantitas sebagai berikut:
1.Pemisalan bahwa T adalah kurang tetap
Ahli-ahli ekonomi Klasik berpendapat kesempatan kerja penuh selalu tercapai maka seterusnya mereka berpendapat bahwa jumlah barang-barang dalam perekonomian tak dapat di tambah. Golongan Keynesian berpendapat bahwa kesempatan kerja penuh tidak selalu dicapai yang banyak berlaku adalah kegiatan ekonomi yang tidak menggunakan faktor-faktor produksi secara sepenuhnya dan menyebabkan pengangguran.
2.Laju peredaran uang tidak selalu tetap dalam jangka pendek dan jangka panjang
Menurut ahli-ahli ekonomi Klasik faktor yang mempengaruhi kelajuan peredaran uang yaitu:

- Pengangguran yang tinggi mengrangi pengeluaran masyarakat
- Inflansi
- Dalam jangka panjang kemajuan dan perkembangan institusi keuangan mengurangi sisa tunai dan ini mempercepat laju peredaran uang.
3.Perhubungan diantara penawaran uang dan harga adalah lebih rumit dari yang diterangkan oleh teori kuantitas.
4.Teori kuantitas hanya memperhatikan fungsi uang sebagai alat untuk melicinkan kegiatan tukar menukar dan transaksi dengan menggunakan uang.
5.Teori kuantitas mengabaikan efek perubahan penawaran uang ke atas suku bunga
Menurut ahli ekonomi klasik bahwa penawaran uang tidak mempengaruhi suku bunga dan menurut golongan Keynesian penawaran uang mempengaruhi suku bunga.

B.TEORI   KEUANGAN   KEYNES
Ø  Teori keuangan Keynes terutama menerangkan tiga hal, yaitu:
        i.Tujuan-tujuan masyarakat untuk meminta (menggunakan) uang.
        ii.Faktor-faktor yang menentukan tingkat bunga.
        iii.Efek perubahan penawaran uang ke atas kegiatan ekonomi negara.


TUJUAN-TUJUAN MEMEGANG UANG
1.Permintaan Uang untuk Transaksi
            Tingkat spelisalisasi yang tinggi hanya mungkin wujud apabila pertukaran dilakukan dengan menggunakan uang karena dengan ini pemilik uang dapat dengan mudah menggunakannya untuk membeli barang-barang yang mereka perlukan.
2.Permintaan Uang untuk Berjaga-jaga
Uang yang disisihkan untuk tujun menghadapi keadaan kesusahan atau masalah penting lain di masa depan dinamakan permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga. Permintaan uang untuk tujuan awasan adalah permintaan uang untuk menghadapi kesusahan-kesusahan seperti apabila ada anggota keluarga yang sakit.
3.Permintaan Uang untuk Spekulasi
Masyarakat menggunakan pola uangnya untuk tujuan spekulasi yaitu disimpan atau digunakan untuk membeli surat-surat berharga seperti Obligasi Pemerintah,saham perusahaan dan “treasury bill”.

PERMINTAAN UANG DALAM GRAFIK
Permintaan uang adalah jumlah uang yang diminta oleh masyarakat untu ketiga tujuan meminta uang yaitu tujuan transaksi, tujuan berjaga-jaga, tujuan spekulasi. Permintaan uag untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga ditentukan oleh pendapatan nasional dan sifatnya berbeda dengan permintaan uang untuk tujuan spekulasi yang ditentukan oleh suku bunga.

PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG DAN SUKU BUNGA
Dalam teori Keynes, suku bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang. Kurva penawaran uang adalah tidak elastik sempurna (tegak lurus).

UANG DAN KEGIATAN EKONOMI : PANDANGAN KEYNES
Penawaran uang akan menimbulkan perubahan tingkat harga, tetapi perubahan ini tidak menimbulkan efek ke atas tingkat produksi dan kegiatan ekonomi negara.

 MEKANISME TRANSMISI

Analisis Keynes berkeyakinan bahwa pengangguran selalu wujud dan menyebabkan tingkat kegiatan dalam perekonomian belum mencapai tingkat yang maksimum. Keadaan ini dapat diperbaiki melalui dua pendekatan atau kebijakan:
  i.Menaikan pengeluaran agregat
Dapat melalui perubahan pengeluaran pemerintah dan komponen pengeluaran agregrat lain (seperti ekspor dan investasi)
 ii.Menambah penawaran uang
            Teori Keynes tidak menunjukan bagaimana perubahan penawaran uang akan mempengaruhi tingkat harga. Teori keuangan Keynes juga sama sekali memperhatikan efek perubahan penawaran uang kepada tingkat harga. Efek perubahan negara dapat dibedakan kepada tiga tahap perubahan yang berikut:
 i.Perubahan dalam penawaran uang akan menimbulkan perubahan keatas suku bunga.
ii.Selanjutnya perubahan suku bunga akan mengubah jumlah investasi.
iii.Perubahan investasi mengubah pengeluaran dan akhirnya pendapatan nasional.
            Rangkaian peristiwa-peristiwa yang dinyatakan diatas dinamakan mekanisme transmisi atau transmision merchanism yaitu suatu rangkaian peristiwa yang menggambarkan efek perubahan uang keatas kegiatan ekonomi negara.
 Perangkap Likuiditas adalah suatu keadaan dimana suku bunga dalam perekonomian mencapai tingkat yang sangat rendah dan menyebabkan permintaan uang untuk tujuan spekulasi menjadi elastis sempurna.

PERANAN UANG DALAM PEREKONOMIAN
Milton Friedman merupakan pelopor golongan Monetaris yang mengemukakan pandangan baru yang pada dasarnya menyempurnakan pandangan teori kuantitas. Teori Friedman berpendapat bahwa pertambahan penawaran uang dapat menimbulkan kenaikan harga maupun kenaikan pendapat nasional riil.
            Melalui analisis AD (Agregart Demand) – AS ( Agregrat Supply) dapat dibutikan bahwa pandangan golonagn Klasik dan Keynes tidak sepenuhnya benar. Pandangan Klasik kurang tepat karena, (i) kesempatan kerja penuh tidak selalu tercapai oleh sebab itu T (jumlah barang dalam ekonomi) dapat berubah dan, (ii) kenaikan harga yang mungkin berlaku tidaklah sebesar seperti yang diramalakan oleh teori kuantitas yaitu kenaikan harga adalah sama tingkat kelajuannya dengan pertambahan penawaran uang. Sedangkan kelemahan teori Keynes adalah analisisnya tidak memperhatikan efek perubahan penawaran ke atas tingkat harga.
C.KEBIJAKAN MONETER DAN KEGIATAN EKONOMI
Kebijakan moneter dibedakan kepada dua golongan yaitu kebijakan moneter kuantitatif dan kebijakan moneter kualitatif.
Kebijakan moneter kuantitatif adalah langkah-langkah bank sentral yang tujuan utamanya adalah untuk mempengaruhi jumlah penawaran uang dan suku bunag dalam perekonomian.
Kebijakan moneter kualitatif adalah langkah-langkah bank sentral yang bertujuan mengawasi bentuk-bentuk pinjaman dan investasi yang dilakukan oleh bank-bank perdagangan. Tujuan utama kebijakan ini bukanla untuk mengawasi perkembangan penawaran uang tetapi untuk mempengaruhi jenis-jenis pinjaman yang diberikan institusi keuangan.

KEBIJAKAN MONETER KUANTITATIF
Kebijakan ini dapat dibedakan dalam tiga jenis tindakan, yaitu:
i.Melakukan jual beli surat-surat berharga di dalam pasar uang dan pasar modal langkah ini dinamakan operasi pasar terbuka.
 ii.Membuat perubahan keatas suku diskonto dan suku bunga yang harus dibayar oleh bank-bank perdagangan.
 iii.Membuat perubahan atas cadangan minimum yag harus disimpan oleh bank-bank perdagangan.


ΓΌ  Operasi Pasar Terbuka
     Penawaran uang akan bertambah karena apabila bank sentral melakukan pembayaran atas pembelian surat-surat berharga maka cadangan yang ada pada bank perdagangan telah menjadi besar.Dalam masa inflasi kegiatan ekonomi yang berlebihan harus dikurangkan dengan langkah mengurangkan penawaran uang.
Tujuan mengurangkan penawaran uang dapat dicapai oleh bank sentral dengan membeli surat-surat berharga. Agar operasi pasar terbuka dapat dilaksanakan dengan sukses dengan diwujudkan dengan keadaan-keadaan diantaranya:
1)Bank-bank perdagangan tidak memiliki kelebihan cadangan, operasi pasar terbuka hanya akan berhasil apabila bank-bank perdagangan tidak  mempunyai kelebihan cadangan lagi.
2)Dalam ekonomi telah tersedia cukup banyak surat-surat berharga yang dapat diperjualbelikan

ΓΌ  Mengubah Suku Bunga dan Suku Diskonto
Ada dua bentuk bantuan untuk bank-bank perdagangan yang dapat diberikan oleh bank sentral yaitu:
    i.Dengan memberikan pinjaman
    ii.Dengan membeli surat-surat berharga tertentu yang dimiliki oleh bank perdagangan yang  memerlukan bantuan .
            Bank sentral hanya akan menerima surat-surat berharga yang mudah tunai seperti sertifikat Bank Indonesia. Apabila bank-bank perdagangan menjual surat-surat berharga seperti itu kepada bank sentral maka langkah itu dinamakan mendiskontokan surat-surat berharga.
 Bank sentral akan menetapkan suku diskonto dari Sertifikat Bank Indonesia atau surat-surat berharga lainnya yang mudah tunai yang dijual kepada bank sentral. Tingkat yang ditentukan oleh bank sentral tersebut dinamakan suku diskonto atau suku bank (Bank Rate).
            Peranan bank sentral sebagai suatu sumber pinjaman atau tempat untuk mendiskontokan surat-surat berharga tersebut dapat digunakan oleh bank sentral sebagai suatu alat untuk mengendalikan jumlah penawaran uang dan tingkat kegiatan ekonomi.

ΓΌ  Mengubah Tingkat Cadangan Minimum
Apabila kelebihan cadangan banyak terdapat dibank-bank perdagangan didalam mempengaruhi penawaran uang langkah bank sentral yang paling efektif adalah dengan mengubah tingkat cadangan minimum.

 KEBIJAKAN MONETER KUALITATIF
Kebijakan moneter yang bersifat kualitatif biasanya dibedakan menjadi dua jenis yaitu:
i.Pengawalan pinjaman secara terpilih dilakukan dengan menentukan jenis-jenis pinjaman mana yang harus dikurangi atau digalakkan.
ii.Pembujukan moral dilakukan oleh bank sentral yang mengadakan pertemuan langsung dengan bank-bank perdagangan untuk meminta mereka melakukan langkah-langkah tertentu.


ΓΌ  Pengawasan Pinjaman Secara Terpilih
            Tujuan utama dari melaksanakan pengawasan pinjaman secara terpilih adalah untuk memastikan bahwa bank-bank perdagangan memberikan pinjaman-pinjaman dan melakukan investasi-investasi yang sesuai dengan yang diinginkan oleh pemerintah.
 Pengawasan pinjaman secara terpilih ini bukanlah tujuan untuk mengendalikan jumlah uang yang diwujudkan oleh bank –bank perdagangan melalui kegiatan mereka meminjamkan dan menginvestasikan uang dipasaran uang dan pasaran modal. Dalam kebijakan ini yang diawasi adalah bentuk pinjaman dan investasi keuangan yang dilakukan oleh bank-bank perdagangan.
Beberapa contoh lain langkah-langkah bank sentral untuk mengendalikan pinjaman bank-bank perdagangan adalah:
i.Mengarahkan supaya bank-bank perdagangan memberikan pinjaman kepada pembeli-pembeli rumah biaya murah dengan tingkat bunga yang rendah.
ii.Mengalakkan pemberian pinjaman kepada pedagang-pedagang kecil.
iii.Memberikan syarat yang lebih tingan untuk pinjaman kepada pedagang kecil dan industri rumah tangga. Kebijakan pinjaman secara terpilih dapat pula dilakukan untuk:
i.Pinjaman bank perdagangan kepada para konsumen.
ii.Pinjaman untuk membeli saham-saham di pasaran modal.



1.Pinjaman kepada para konsumen
Pada waktu ekonomi sedang menghadapi banyak pengangguran pemerintah perlulah menggalakkan para konsumen untuk melakukan lebih banyak perbelanjaan. Bank sentral dapat melaksanakan tujuan ini dengan memberikan syarat-syarat yang lebih ringan kepada peminjam-peminjam untuk membeli barang-barang yang tahan lama atau rumah. 

2.Pinjaman untuk membeli saham
Ketiadaan pembatasan besarnya pinjaman surat berharag menimbulkan spekulasi yan berlebihan yang pada akhirnya menimbulkan kenaikan dan kemerosotan harga yang tinggi di pasaran saham.

ΓΌ  Pembujukan Moral
            Kebijakan ini dijalankan oleh bank sentral bukan dengan menetapkan dalam bentuk tertulis hal-hal yang harus dilakukan oleh bank-bank perdagangan, tetapi dengan mengadakan pertemuan langsung dengan bank-bank tersebut.
            Dalam menggunakan pembujukan moral didalam menjalankan kebijakan moneternya, bank sentral mungkin menjalankan kebijakan bersifat kuantitatif tetapi mungkin pula menjalankan kebijakn yang bersifat kualitatif.
            Dengan melalui pembujukan moral bank sentral dapat meminta bank-bank perdagangan untuk mengurangi atau menambah keseluruhan jumlah pinjaman atau mengurangi atau menambah pinjaman kepada sektor-sektor tertentu atau membuat perubahan-perubahan atas suku bunga yang mereka tetapkan atas pinjaman yang mereka berikan. Kesuksesan dari kebijakan yang dijalankan secara pembujukan moral tergantung kepada sampai dimana bank-bank perdagangan menjalankan kebijakan yang diusulkan oleh bank sentral.

D.Efek Kebijakan Moneter dalam Grafik
Untuk melengkapi uraian mengenai kebijakan moneter, ada baiknya apabila ditunjukkan bagaimana kebijakan moneter yang bersifat kuantitatif akan mempengaruhi tingkat kegiatan ekonomi. Pada mulanya dimisalkan p erekonomian menghadapi masalah kemunduran ekonomi dan pengangguran meningkat. Untuk mengatasi masalah ini bank sentral berusaha menambah penawaran uang dan menurunkan suku bunga.
Telah diterangkan apabila penawaran uang bertambah, tingkat bunga akan turun, investasi akan meningkat, dan sebagai akibatnya pengeluaran agregat juga akan meningkat. Perubahan ini akan memindahkan kurva AE ke atas dan kurva AD ke kanan. Efek dari perubahan ini kegiatan ekonomi, pendapatan nasional dan tingkat harga akan meningkat. Efek ini dapat dilihat pada gambar dibawah.

Grafik (a) menunjukkan efek kebijakan moneter dalam analisis pengeluaran agregat-penawaran agregat (Y=AE). Pengeluaran agregat pada ketika ekonomi mengalami kemunduran adalah AE0 dan dengan demikian keseimbangan yang asal dicapai di E0 dan pendapatan nasional adalah Y0. Kebijakan moneter akan menambah pengeluaran agregat dan perubahan ini ditunjukkan oleh perubahan AE0 menjadi AE1 dan pendapatan nasional meningkat menjadi Y1. Pertambahan pendapatan nasional ini akan menmbahkesempatan kerja dan mengurangi pengangguran.
Efek kebijakan moneter dapat pula diterangkan dengan menggunaka analisis AD=AS, seperti ditunjukkan dalam grafik (b). Keseimbangan asal–yaitu pada ketika perekonomian sedang mengalami kemunduran, dicapai di E0, yaitu titik persilangan di antara AD0 dan AS. Keseimbangn ini adalah sama dengan keseimbangan asal dalam analisis Y=AE.
Maka harga pada keseimbangan asal ini adalah P0. Oleh karena kebijakan moneter memindahkan pengeluaran agregat dari AE0 menjadi AE1 dan menyebabkan pendapatan nasional bertambah sebanyak Y0Y1, maka kurva AD0 akan bergeser menjadi AD1 yang melalui titik E1di mana E0E1 = Y0Y1.
Kurva AD1 memotong kurva AS di E2 dan ini merupakan keseimbangan AD-AS yang baru efek dari melaksanakan kebijakan moneter.   Keseimbangan yang baru ini menunjukkan pendapatan nasional riil hanya meningkat dari Y0 menjadi Y2 dan tingkat harga meningkat dari P0 menjadi P1.
Mengapakah dalam analisis AD-AS pada keseimbangn yang baru pendapatn nasional riil lebih rendah dari Y1 ? hal itu bersumber dari efek berikut : pertambahan pengluaran agregat dari AE0 menjadi AE1 akan meningkatkan harga-harga dan ini mengurangi pendapatan nasional riil dan pengeluaran agregat riil, yaitu hanya mencapai Y2







DAFTAR PUSTAKA
Sukirno,Sadono.(2004), Makro Ekonomi “Teori Pengantar”, Jakarta: Rajawali Pers


contoh surat permohonan calon penerima beasiswa dan surat pernyataan tidak menerima beasiswa dari sumber lain

                                                                                            
contoh surat permohonan cslon penerima beasiswa

                                                                                                                Medan,
Nomor : -                                                                     Kepada Yth Bapak Rektor Unimed
Lamp   : 1 (satu) berkas rangkap 2                                                    Di
Hal       : Permohonan mendapatkan Beasiswa                                  Medan.



              Dengan hormat,
              Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
              Nama                          : Cinta Rosalina Tarigan
              NIM                           : 
              Program Studi            : Pendidikan Ekonomi
              Jurusan                      : Pendidikan Ekonomi
              Fakultas                     : Ekonomi
              Jenis Kelamin              : Perempuan
             
datang mengajukan permohonan untuk mendapatkan beasiswa PPA dengan melampirkan         berkas masing-masing rangkap 2 (dua) sebagai berikut :
1.    Fotocopy KTM / Mahasiswa Reguler
2.    Fotocopy Kwitansi semester terakhir
3.    Fotocopy KHS semester terakhir dengan IPK.....
4.    Surat Keterangan Penghasilan Orang Tua 
5.    Surat Pernyataan tidak Menerima Beasiswa lain
6.    Fotocopy  Kartu Keluarga
7.    Fotocopy  Buku Rekening/Taplus BNI


Demikian permohonan ini disampaikan ,dan atas perhatian dan bantuan  bapak rektor, diucapkan terimakasih.




                                                                                                          Hormat saya,
                                                                                                          Pemohon

                                                                                                                                 
                                                                                                                        Cinta R Tarigan
                                                                                                     NIM:
                                                                                                          

                                                                                                                                 
                                                                                                                  







SURAT PERNYATAAN TIDAK MENERIMA BEASISWA DARI SUMBER LAIN

Saya yang bertandatangan dibawah ini :
Nama                           : Cinta Rosalina Tarigan
NIM                            : 
Program Studi `           : Pendidikan Ekonomi
Jurusan                        : Pendidikan Ekonomi
Fakultas                       : Ekonomi

dengan ini menyatakan bahwa saya tidak menerima beasiswa dari pihak lain.Apabila Surat Pernyataan ini ternyata tidak benar,maka saya akan bertanggungjawab atas kerugian yang ditimbulkannya.

Demikian Surat Pernyataan ini saya perbuat sebagai bahan kelengkapan administrasi permohonan mendapat beasiswa.


Diketahui                                                                                Medan,28 Maret 2015
Wakil Dekan III,                                                                     Yang membuat Pernyataan ,

                                                                                                           
Drs.Surbakti Karo-Karo M.si,Ak                                            Cinta R Tarigan
NIP :                                                                                       NIM: